Pagi itu aku melihat layar handphone dan
tiada pesan ucapan “Selamat ulang tahun sayang”
darinya. Yang ku lihat hanyalah semua pesan dari sahabat-sahabatku. Awalnya
yang ku harapkan adalah sebuah ucapan darinya, walaupun melalui pesan singkat
aku merasa sangat bahagia dan berharga untukku bila ia mengirimnya padaku.
Namun harapan tinggal harapan. Aku merasa kecewa dan bertanya pada hatiku
“apakah ia melupakan tanggal ini? Apakah ia lupa dimana hari aku dilahirkan
sekaligus anniversary kami yang ke 24bulan?” ku pendam semua keluhanku ini
dalam-dalam meski pahit menelannya, ku abaikan hal ini dan menganggap Vino
mengingatnya. Saat perjalanan menuju sekolah di dalam mobil aku masih
memikirkan hal ini sambil melihat ke layar handphone siapa tau Vino mengirimkan
pesan singkat padaku, ternyata aku masih mengharapkan hal tersebut. Setibanya
di sekolah aku berjalan menuju kelas dan melihat Vino yang berdiri di depan
koridor sambil berkumpul bersama gadis cantik di sekolah. Aku melewatinya, ku
pikir Vino akan menyapaku pagi ini namun sayangnya hal tersebut merupakan
harapan yang tak akan terwujud. Beberapa kerabatku menghampiri dan memberikan
ucapan selamat. Aku memasang senyum palsu, berpura-pura bahagia meskipun
sebenarnya hatiku menjerit. Sekilas ku lirik ke arah Vino, akan tetapi ia tetap
tak memperdulikanku. Ia tetap menikmati menebarkan pesonanya pada gadis lain.
Kemudian aku segera ke kelas, sahabatku
Lina memberikan kejutan dengan menutup mataku menggunakan tangannya. Aku
mengira tangan tersebut adalah tangan Vino ternyata prasangka ku salah kembali.
Serontak senyum bahagiaku luntur saat mengira tangan itu adalah tangan Vino.
“Kok cemberut sih? Gak seneng ya Ra?” Tanya Lina dengan wajah bersalah. “E..engga..
kok seneng gue hehe, gue kira tangan Vino eh gataunya lo Lin hehe” singkat
jawabanku dengan menggunakan senyum palsu. “Lo kenapa sih? Ini kan hari ulang
tahun sekaligus anniversary lo, senyum dong senyum jangan kayak kepaksa gitu.
Oya udah dikasih kejutan belum sama Vino?” Tanya Lina yang ingin mengetahui.
“Ah kepo lo Lin” tegasku untuk menghentikan pembicaraan. Dalam kelas aku
memperhatikan ke arah bangku Vino dan aku melihat ia tengah asyik bermain
dengan ponselnya sambil senyum-senyum. Aku melihat kembali ke layar ponselku
dan tak ada satupun pesan darinya. Saat menuju kantin aku menarik tangan Vino
agar ia menjelaskan semuanya, namun ia melepaskan genggaman tanganku dengan paksa.
Aku merasa bingung atas sikapnya yang sekarang. Setibanya di kantin saat aku
hendak memesan makanan aku melihat Vino duduk berdua dengan gadis lain. Melihat
kejadian tersebut nafsu makan ku hilang dan segera kembali ke kelas. Seketika
bel berbunyi. Saat pertengahan pelajaran hidungku mengeluarkan darah dan aku
segera meminta izin kepada guru untuk ke toilet. Tubuhku gemetar dan tak kuat
untuk berjalan. Akupun terjatuh pingsan saat keluar dari pintu kelas. Semua
teman dan guru yang melihatku terjatuh segera menghampiri dan membawaku ke
ruang klinik sekolah. “Vino…….!!! Vino……!!!” teriak Lina memanggil Vino yang
bermaksud agar membawaku ke klinik sekolah. “Apaansih? Lo gak liat gue lagi
ngapain? Gue lagi ngerjain fisika! Suruh yang lain aja kenapa sih buat bawa
Clara ke klinik!” jawab Vino ketus seolah-olah tak memperdulikan kondisi
kekasihnya. “Dia tuh siapa-siapanya lo bukan orang lain yang gak lo kenal!!”.
Dengan segera teman dan guru membawaku ke klinik sekolah. Selang beberapa menit
kemudian aku siuman dan kembali ke kelas. Ternyata sudah istirahat kedua dan
aku berjalan dengan kondisi yang belum pulih, melihat Vino mencium kening Raisa
di koridor toilet. Shock dan membuatku down kembali. Aku tak mengerti maksud
Vino dibalik sikapnya yang seperti ini, tak terasa ada air yang membasahi
pipiku yaitu air mata. Sungguh hancur lebur perasaanku. Aku masih menahan rasa
sakit yang telah menyayat hatiku. Sepulang sekolah aku menemui Raisa untuk
memberikan penjelasan maksud Vino menciumnya itu apa. “Sa.. Lo dicium Vino?
Kenapa gak lo tampar aja dia pas dia mau nyium lo? Lo kan tau dia itu cowok
gue!” tanyaku tanpa basa-basi kepada Raisa. “A..e…ee… engga kok mungkin lo
salah lihat” jawab Raisa terbata-bata. “Gue gak mungkin salah lihat! Lo kok
jahat sih sama gue? Setau gue, gue gak pernah ngejahatin lo. Gue baik sama lo
kenapa lo bales gini? Kenapa lo ngekhianatin gue? Kita tuh sama-sama cewek dan
lo harusnya ngerti perasaan gue kalo diginiin!!” jelasku dengan nada tinggi
sambil menangis. Tiba-tiba Vino datang menghampiri Raisa bukan aku kekasihnya
sendiri. “Lo gak usah marah-marah ke Raisa. Gue inget kok hari ini ulang tahun
sekaligus hari anniversary kita. Selamat ulang tahun buat lo dan selamat
anniversary yang terakhir! Kita putusss!!!!!!” tanggap Vino yang membela Raisa.
Aku hanya bias diam membisu dan menangis. Aku tak habis pikir Vino memutuskan
ku disaat hari bahagia dalam hidupku. “Vin… Lo tega sama gue. Dihari ulang
tahun sekaligus anniversary lo mutusin gue? Lo punya hati engga?!?!?!!” tanyaku
tegas dan menangis lalu menampar wajah Vino. Aku pergi meninggalkan Vino dan
masuk ke dalam mobil.
Sesampainya di rumah aku langsung masuk dan
mengunci kamar. Aku menangis tersedu-sedu hingga lupa makan. Sepintas
dipikiranku akan tugas musikalisasi puisi esok hari. Berhubung aku sedang sakit
hati ku tuangkan seluruh isi hatiku dalam sebuah lirik lagu. Hingga aku tak
tidur sampai besok pagi. Hari ini aku tampil pertama. Ku nyanyikan lirik demi
lirik diiringi sebuah gitar. Namun saat menyanyikannya aku menahan air mata,
melirik Vino, ia memperhatikan penampilanku. Ku abaikan dia aku hanya
menganggap dia seseorang yang tak pernah hadir dalam kehidupanku. “Tak ada
kisah tentang cinta yang bisa terhindar dari air mata. Namun ku coba menerima
hatiku membuka siap untuk terluka……” tak terasa air mata membasahi pipiku
beberapa kerabatku menanyakan mengapa aku menangis disaat pentas. Mereka
menyuruh Vino untuk melihat penampilanku ini. Aku benar-benar tak kuasa
menahannya, akupun bernyanyi sambil menangis. “Cinta tak mungkin
berhenti…..secepat saat aku jatuh hati. Jatuhkan hatiku kepadamu sehingga hidupku
pun berarti. Cinta tak mudah berganti….tak mudah berganti jadi benci walau kini
aku harus pergi……tuk sembuhkan hati……….. Walau seharusnya bisa saja dulu aku
menghindar dari pahitnya cinta. Namun ku pilih begini biarku terima, sakit demi
jalani cinta……………..” usai sudah
penampilanku. Semua kerabatku memeluk diriku terutama Lina sahabatku. Ia rela
bahunya basah oleh air mataku demi perasaanku menjadi lebih baik. Hal itu tak
membuatku berhenti menangis namun membuat tangisanku semakin menjadi. “Lo putus
sama Vino?” Tanya Lina membisikkan ditelingaku. Aku hanya bisa menjawab dengan
tangisan dan memeluk erat Lina. Lina mengerti isyarat yang ku berikan
kepadanya. Lalu seorang guru bertanya kepadaku “Untuk siapa lagu ini? Sangat bagus
dan menyentuh”. Akupun menjawab pertanyaan guru dengan melirik ke arah Vino dan
semua mata tertuju pada Vino. “Vino, kesini!” perintah guru. Vino
menghampiriku. Ia hanya bisa diam penuh penyesalan melihatku menangis tersedu
dengan tampang penuh penyesalan. “Hapus air matanya! Kenapa kamu Cuma bisa
diem?” tanya guru kembali. “Saya gak
tega ngeliat seorang wanita menangis bu”
jawab Vino. “Lantas jika kamu tak tega melihat seorang perempuan menangis, mengapa
kamu membuatnya menangis?“ tegas guru dan Vino hanya bisa terdiam seribu
bahasa, “Biar saya saja bu yang hapus air matanya Clara” seru Dino yang segera
menghapus air mataku. Aku mengharapkan Vino yang menghapusnya, namun untuk apa
aku mengharapkan orang sepertinya? Aku pun berpikir panjang. Aku mengetahui
kalau Dino sudah lama menyukaiku namun aku tak pernah membalas perasaannya
karena aku hanya menyayangi Vino seorang. Namun seseorang yang aku banggakan
dan ku sayangi sepenuh hati membalasnya dengan pengkhianatan. Vino kaget
melihat Dino menghapus air mataku bisa dibilang ia cemburu. Vino menepis tangan
Dino dari wajahku. “Kenapa kamu tepis? Kamu gak rela kan air mata Clara dihapus
sama orang lain? Kamu ngerasa sakit kan dibalas seperti ini?” Tanya sang guru.
“Saya memang gak rela Clara dihapus air matanya sama laki-laki lain, saya masih
menyayangi dirinya” jawab Vino tegas. “Jika kamu tak menginginkan hal ini
mengapa kamu membiarkannya untuk pergi?” Tanya guru kembali yang tak diduga
bahwa guru tersebut ialah kakaknya Clara. Vino tak dapat menjawab pertanyaan
tersebut kemudian meninggalkan ruang kelas. Di luar sana Vino menemui Raisa dan
ternyata Raisa tengah bersama laki-laki lain. Tiba-tiba Vino dipukul oleh
laki-laki itu yang ternyata kekasih sebelumnya Raisa. “Lo perusak hubungan
orang! Munafik! Gue ini cowok resminya Raisa dan lo cuma selingkuhannya doang!
Mulai sekarang gak usah ganggu cewek gue lagi!!” tegas kekasihnya Raisa memberi
peringatan kepada Vino, ia meninggalkan Vino sambil merangkul Raisa. Raisa tak
dapat berbuat apa-apa, ia hanya bisa menoleh ke arah Vino.
Aku mencari Vino dan mendapati ia tengah
terduduk dilantai dengan bibir yang berdarah akibat pukulan dari kekasih Raisa.
“Vino…. Lo gak apa-apa kan?” tanyaku mencemaskan Vino. “Lo kok masih peduli aja
sama gue sih? Padahalkan gue udah buat lo nangis Ra..” jawab Vino singkat. “Gue
peduli karena gue sayang sama lo Vin, gue juga gak ngerti sama hati gue kenapa
masih peduli dan sayang sama lo meski lo udah nyakitin gue. Gue kan udah
sampaiin lewat lagu gue kalo cinta gak mungkin berhenti secepat gue jatuh hati
sama lo” singkat jawabku sambil meneteskan air mata. “Gue juga sayang kok sama
lo, maafin gue Ra, gue bodoh udah nyia-nyiain orang setulus lo yang sayang sama
gue gak kayak Raisa. Gue bener-bener nyesel Ra, yang namanya disakitin itu
bener-bener sakit, perih…” jelas Vino sambil mengusap air mataku. “Ra.. Lo mau
kan balik lagi sama gue? Gue janji kok gak akan nyakitin lo untuk yang kedua
kalinya” pinta Vino. “Mmm.. maaf Vin gue gak bisa, lo itu sekarang udah jadi
masalalu gue. Lo udah jadi sejarah dalam percintaan gue yang saat ini cuma bisa
gue kenang. Gue nolak lo bukannya gue trauma sama lo tapi cukup sekali aja gue
ngerasain begini. Jujur gue sayang lo tapi cinta gak harus memiliki kan? Gue
hargai kok perasaan lo sama gue, tapi sekali lagi maaf. Gue sadar diri. Gue gak
pantes berada disisi lo lagi. Lo layak ngedapetin perempuan yang gak over kayak
gue.. sekali lagi makasih yaa buat waktu 2tahunnya. Status kita memang bukan
pacaran tapi masih bisa berteman kan? Dan gue beruntung kok sempat memiliki
lo:””)” ujarku yang melingkarkan jari kelingkingku di jari kelingking Vino.
Aku segera meninggalkan Vino yang duduk
terdiam penuh penyesalan sambil menangis. Aku tak salah ambil keputuskan. Fix
ku tinggalkan Vino demi kebahagiaannya meski ku menyayanginya. Akupun harus
begitu Vino hanyalah tinggal kenangan. Dan ku tak boleh bergantung lagi padanya
karena dia hanyalah masa lalu yang dapat dikenang dan dijadikan pelajaran untuk
kedepannya.
THE END