Daftar Blog Saya

Rabu, 17 April 2013


Kanvas Kenangan

            Siang itu alam menangis. Aku harus pergi ke Pameran Lukisan Franchise di CCC di alun-alun Desa Pananjung, Kota Ciamis, Jawa Barat dengan senang hati Ayah mau mengantarkanku ke sana. Pergi tanpa sepengetahuan Ibu yang tak mendukung bakat lukisku. Di dalam mobil, seperti biasa yang sering dilakukan anak remaja kini apabila berada dimana-mana yaitu mendengarkan musik. Ya musik. Sebagian remaja beranggapan bahwa apa bila tak mendengarkan musik, separuh jiwanya pergi. Setibanya di depan alun-alun, ku bergegas masuk ke dalam gedung tanpa menggunakan payung. Ku lawan rasa takutku terhadap hujan. Ku terobos hujan yang deras disertai angin yang kencang, memberi alasan yang cantik mengapa diriku seperti anak kecil yang senang bermain hujan.
                Tepat di lobby antrian registrasi peserta pameran lukisan tanpa sengaja aku menabrak seorang laki-laki yang sebaya denganku. Karya lukisannya terjatuh di atas lantai, aku merasa bersalah dan membereskan lukisan yang berserakan dilantai itu. Disaat ku mengambil kanvas miliknya, secara bersamaan tangan kami menyentuh kanvas tersebut. Aku terkejut dan bertatapan mata dengannya. Lima detik berlalu, kini giliranku untuk mengisi kertas formulir dan melepaskan diri dari kejadian tersebut. Setelah selesai mengisi formulir, aku langsung menuju tempat dimana pameran dilaksanakan. Tak ku duga, aku duduk disamping laki-laki yang ku temui di lobby beberapa menit yang lalu. Kami duduk terdiam seribu bahasa, hanya terfokus pada pengisi acara di panggung. Tak ada diantara kami yang memulai pembicaraan.
                “Nomor peserta 0101 dipersilahkan naik ke atas panggung”
Sambutan Mc yang hangat untuk nomor peserta 0101. Aku hanya menikmati alunan lagu yang ku dengarkan melalui earphone sambil memainkan gadget. Tiba-tiba laki-laki tersebut melihat gelang yang ku kenakan bertuliskan nomor peserta 0101.
                “Hei, giliranmu untuk memamerkan karyamu” sapanya yang ramah menegurku untuk naik keatas panggung, tetapi aku tetap saja tidak mendengarnya. Aku hanya merasa seseorang telah berbicara kepadaku. Aku melepas earphone dan mematikan gadget lalu menoleh ke arahnya dan menanyakan apakah ia tadi tengah berbicara kepadaku.
                “Kamu lagi ngomong sama aku ya?” tanyaku kepadanya dengan polos.
                “Iya tapi kamu tadi gak dengar. Tuh giliranmu untuk memamerkan hasil lukisanmu.”
                “Hah?”
Dengan wajah penuh tanya dan tak membutuhkan jawaban, aku berlari-lari kecil untuk berdiri diatas panggung yang terhormat tersebut. Ku mulai dari lukisanku bertemakan ‘Kehilangan’. Secara detail ku deskripsikan lukisanku tersebut. “Aku  menyayanginya tulus karenaNya tetapi takdir yang tak mengizinkan ku ‘tuk bersatu dengannya” itulah kalimat penutup untuk mengakhiri deskripsi mengenai lukisan ‘Kehilangan’. Selama kurang lebih 15menit ku berdiri diatas panggung bergengsi ini, ku rasa aku telah cukup puas menghibur penonton dengan lukisanku. Aku kembali ke kursi peserta dan duduk disamping laki-laki tadi.
                “Lukisanmu sangat indah, dan setiap kata yang kamu lantunkan untuk mendeskripsikan lukisanmu itu sangat menyentuh. Aku menatap indah dan diam terpaku ketika bulan sabit melukis dibibir mu”
Aku terkejut. Laki-laki yang tidak aku kenal sebelumnya memujiku begitu saja, sedikit miris. Raffa kekasihku saja tak pernah mengomentari lukisanku. Ia hanya mengatakan melukis hanya untuk orang-orang yang larut dalam masalalunya saja. Bahkan Ayah yang sedikit terpaksa mendukung hobbyku ini belum pernah mengomentari atau memuji karyaku.
                “Kamu adalah orang yang pertama mengomentari serta memuji lukisanku”
                “Haaa? Aku orang yang berkata seperti itu pertama? Loh bagaimana dengan orang tuamu atau kekasihmu?”
                “Mereka tidak pernah menghargai serta mengerti perasaanku”
                “Oh,maaf aku gak bermaksud”
                “Gak jadi masalah kok.”
Kami berbincang-bincang, bersenda gurau cukup lama. Aku belum pernah merasakan senyaman ini berada didekat seorang laki-laki. Ntah mengapa disaatku berada sisi Raffa aku ingin pergi meninggalkannya. “Nomor peserta 0121 dipersilahkan untuk naik ke atas panggung” kini gilirannya untuk memamerkan hasil karyanya tersebut. Terasa seperti ada yang menggenggam erat tanganku, setelah ku menoleh ternyata memang ada yang menggenggam tanganku dengan erat yaitu tangannya. Genggamannya sangat erat, seolah-olah tak ingin melepaskan.
                “Aww.. tanganku sakit” aku mencari alasan agar ia melepaskan genggamannya
                “Aduh.. maaf , aku kalo demam panggung gini hehe. Aku ke panggung ya, kamu disini doakan aku oke?”
Ia sama sepertiku tadi berlari-lari kecil menuju panggung. Aku menyaksikannya dengan seksama. Ia mendeskripsikan lukisannya yang bertema ‘Cinta Suci’ dengan lafal serta tata bahasanya yang membuatku tersanjung dengannya. Sebelum menutup penampilannya ia mengatakan “Cinta itu suci. Datang tanpa kita minta dan pergi tanpa pamit. Cinta itu tidak pernah salah, tetapi manusia lah yang selalu menyalah gunakan cinta” aku berdiri dan memberikan tepuk tangan hangat yang puas karena ku terhibur olehnya.
Pameran telah selesai, kini saatnya pengumuman. Tak ku duga, aku dan lelaki tersebut memenangkan pameran bergengsi ini. Aku merasa sangat bahagia dan tanpa disengaja aku  memeluknya karena kesenangan dalam hatiku ini tak terungkapkan oleh kata-kata. Kami keluar aula dan alam masih menangis. Seperti ketakutanku akan hujan aku hanya berdiri dibelakangnya untuk melawan rasa takut.
                “Kamu ngapain ngumpet dibelakang aku?” tanyanya heran
                “Eengg..ak hehe, aku……benci juga takut hujan”
                “Loh kenapa bisa Diana?”
                “Ha? Kamu tau namaku? Kalau tidak salah namamu….. Andre? Hmm iya gitu aku benci hujan. Soalnya hujan bisa menghapus debu-debu tapi gak bisa menghapus lukaku makanya aku benci itu.”
                “Kita saling melengkapi ya…….. kamu gak suka hujan, aku suka banget sama hujan. Soalnya aku bisa ngabisin waktu yang luang buat seseorang yang berada disampingku”
Tak lama kami bercakap-cakap, sebuah mobil berhenti dihadapan kami, ia membuka kaca jendelanya dan ternyata orang itu adalah Raffa ya kekasihku sendiri. Aku tak ingin diantar pulang olehnya, aku masih ingin menikmati kenyamananku bersama Andre. Raffa yang terbakar api cemburu menarik tanganku dengan paksa dan memasukkan aku ke dalam mobilnya tanpa pamit dengan Andre. Raffa mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tak wajar, aku sangat takut. Kami bertengkar hebat didalam mobil. Aku yang lemah saat dibentaknya tak dapat memberikan alasan mengapa aku berdua dengan laki-laki lain. Aku hanya mengatakan apa yang hatiku katakan. Namun tetap saja Raffa masih memarahiku. Kemudian selang beberapa saat Raffa melihat mendali indah yang mengalungi leherku.
                “Kamu menang? Selamat ya, aku gak percaya kamu punya bakat melukis”
Itulah kalimat yang dilontarkan Raffa untukku. Singkat tapi berarti, baru pertama kalinya kekasihku sendiri memujiku sambil mengelus-elus kepalaku dan mencium keningku. Ya Tuhan, belum pernah aku merasakan sisi lembutnya Raffa. Setelah 16 bulan menjalin hubungan dan pertama kalinya ia menunjukan sikap romantisnya terhadapku. Yang ku rasakan hanyalah kepedihan, pengekangan olehnya. Sesampainya di rumah aku masuk dengan mengendap-ngendap karena hari sudah malam. Ku lihat Mama sudah tidur, aku pun segera masuk ke kamar dan tidur cantik. Pagi harinya aku memutuskan untuk pergi ke toko buku mencari novel terbaru. Terpikir olehku untuk mengajak Raffa agar ia menemaniku. Tetapi hal itu sia-sia Raffa menolak ajakanku dengan alasan ia harus menemani Mamanya ke butik. Ku putuskan untuk pergi seorang diri.
*****
Seperti biasa aku pergi mengenakan jaket merah, celana pendek dan earphone yang ku pakai ditelingaku. Saat hendak mengambil novel yang ku cari, ada tangan seseorang yang ingin mengambil novel tersebut. Dan ternyata………….Andre ya Andre! Ntah mengapa ia seperti malaikat yang hadir disaat aku membutuhkan seseorang untuk membuatku senang. Disaat itu pula aku dan Andre memperebutkan novel itu dengan cara yang biasa dilakukan oleh anak kecil. Kami bermain kertas-gunting-batu dan akhirnya aku yang memenangkan novel itu. Kami berjalan-jalan di sekitar Ci Mall, Ciamis. Di restoran Ci Mall tersebut sepintas aku melihat seseorang mirip sekali dengan Raffa. Aku penasaran dan ingin membayar rasa keingintahuanku dengan melihatnya lebih dekat untuk memastikan. Ternyata dugaanku benar, Raffa sedang makan siang dan menyuapi wanita lain yang tak ku kenal. Aku tak mau menegurnya, hanya membiarkannya ia menyadari kesalahan yang telah ia perbuat. Sakit, sesak, perih, pahit, down, batin semua rasa bercampur dengan sakit hati yang ku rasakan setelah melihat semuanya. Aku berlari ke toilet dan Andre menarik tanganku, perasaanku sangat kalut, aku melepaskan genggaman tangan Andre namun ia tetap saja mengejarku. Ia bersikeras menarik tanganku lalu memelukku dan membiarkanku menangis dipelukannya. Keluar dari Ci Mall, kami berjalan menyusuri ramainya Kota Ciamis. Aku merasa lapar Andre pun sama. Kemudian kami masuk ke Rumah Makan Sunda untuk mencicipi makanan khas Ciamis. Kami menyantapi Galendo dan Pindang Gunung yang merupakan makanan sejenis sop ikan yang diracik dengan bumbu-bumbu yang lezat.Setelah perut kami terisi penuh, kami kembali melanjutkan perjalanan tanpa arah. Saat itu Andre mengajakku ke suatu tempat dimana tempat itu benar-benar membuat perasaanku menjadi tenang. Ia membiarkanku duduk menenangkan diri ditepi Danau Panjalu. Danau ini begitu nyaman dan indah, disekeliling danau terdapat tanaman ilalang dan bunga-bunga. Meskipun aku baru  pertama kalinya mengunjungi tempat ini, tapi memang benar perasaanku yang kalut tadi kini menjadi tenang. Aku masih memikirkan dan menangisi Raffa yang membohongiku. Tak lama kemudian Andre menghampiriku. Melihat wajahku penuh air mata, dengan sentuhan tangannya yang lembut dan penuh perasaan, perlahan ia menghapus air mataku.
“Aku gak mau liat kamu nangis lagi karena cowok. Menangislah karena dosa dan kedua orangtuamu” katanya dengan tangan kanan memegang pipiku dan tangan kiri menggenggam tanganku. Kemudian ia mengajakku untuk naik keatas perahu. Ia mendayung perahu perlahan. Jemariku menyentuh air danau yang dingin, jernih, damai penuh kelembutan bila di rasakan.
                “Kamu ada kertas sama pensil gak?” pintaku kepada Andre
                “Ada kok nih” jawab Andre tanpa menanyakan untuk apa benda tersebut aku minta dan menyodorkannya kepadaku. Kertas putih yang kosong, ku isi dari goresan, titik hingga bentuk menjadi sebuah gambar dan menjadi lukisan hitam-putih disertai arsiran pada bentuk yang lain. Tema yang ku gambar ialah ‘Pengkhianatan’ dimana orang yang telah memberikan kepercayaan penuh terhadap orang lain, dengan setitik kebohongan yang dilakukan maka hancur sudah kepercayaannya dan sulit untuk percaya kembali. Dan ‘Pelangi Setelah Hujan’ mendeskripsikan perasaanku saat ini setelah banyak meneteskan air mata ada seseorang yang menghapusnya dan membuatku tersenyum kembali.
****
Selesai ku lukis semilir angin yang menghipnotis mataku. Dan aku pun tertidur dipelukannya. Aku terbangun dari mimpi indahku. Lalu Andre mengajakku ke pesisir pantai Pantai Pangandaran yang terletak di Desa Pananjung Kecamatan Pangandaran, Ciamis Jawa Barat untuk bermain layang-layang. Terbayang olehku untuk hidup seperti layang-layang, hanya mengikuti arah angin, dan akan terdiam apabila angin itu damai. Namun aku tak menginginkan nasib layang-layang, bertemu dengan layang-layang lain dan mengikutinya serta mengikat benang dan saling bergesekan sehingga putus dan menjauh ntah kemana ia akan mendarat. Tetapi aku ingin menjadi layang-layang yang putus, dikejar banyak laki-laki dan didapatkan oleh laki-laki yang benar-benar dapat menjaga layang-layang tersebut, supaya ketika hendak diterbangkan dan diadu tak akan putus, karena yang memainkannya menggunakan perasaan bukan emosional. Saatku mengarahkan layang-layangku ia ikut menarik benang tersebut dan alhasil memegang tanganku.
                “Eh kamu kok ga ngelepasin tanganku? Layang-layangnya putus kan” ujarku manja
                “Biarin aku kehilangan layang-layang yang penting aku ga kehilangan kamu. Kamu mau tau kenapa aku ga ngelepasin tangan kamu dari genggamanku?”
                “Iya aku ingin tahu”
                “Tuhan menciptakan sela-sela jari tangan yang nantinya akan diisi oleh orang yang menyayangi kita” sahutnya yang makin erat menggenggam tangan ku lalu menciumnya.
                Tak ku percaya orang yang baru ku kenal di Pameran Lukisan Franchise di CCC begitu sering mengganti tangisku menjadi tawa yang lepas. Disisinya aku merasakan kehangatan, kelembutan serta kenyamanan yang tak dapat ku lukiskan. Ku lihat langit Kota Ciamis yang biru berubah menjadi jingga, burung camar yang terbang kearah utara, nyiur angin sepoi-sepoi yang sejuk menyentuh tubuhku. Kepiting-kepiting berjalan ke arah karang. Raja siang terlihat lelah dan kembali ke barat untuk beristirahat dan berganti dengan Dewi malam yang telah menunggu sejak fajar tiba. Hamparan pasir putih yang begesekkan dengan telapak kakiku, desiran ombak yang menyapu damai kakiku memperindah suasana dan memberikan kenangan yang tak akan terlupakan. Untuk pertama kalinya aku dapat menikmati sunset bersama orang yang selalu membuatku tersenyum. Saatku merasakan hembusan tiap angin, menikmati indahnya lukisan Tuhan terbenam, Ia menutup mataku dari belakang. Sungguh berdebar jantungku ketika ia menutup mataku.
                “Kamu tetap tutup mata kamu yaa, jangan dibuka sebelum aku nyuruh buka”
                “1………….2…………..3………Diana buka matamu!!!!”
Dan………………….setelahku membuka mata sungguh tak ku sangka. Ia membuatkan tempat untuk makan malam kami berdua diatas karang dan lilin-lilin disekelilingnya. Haripun berganti malam, saat menikmati makan malam terlintas dipikiranku akan Raffa. Dalam hati selalu menanyakan mengapa Raffa tak pernah membuat kejutan seromantis ini? Mengapa Andre yang bukan kekasihku dapat melakukannya? Ku kubur dalam-dalam pertanyaan itu didalam hati dan aku tetap menikmati makan malamku dengan Andre.
*****
Hari semakin larut. Ombak semakin pasang. Bintang bertaburan dilangit dan bersama bulan purnama disisinya. Aku bergegas untuk kembali ke rumah dan meminta Andre agar menemani langkahku menuju rumah. Diperjalanan kami jalan berdua menikmati hembusan angin malam layaknya sepasang kekasih. Aku menginginkan hal ini terjadi pada Raffa tetapi pupus sudah. Melihat orang yang ku sayangi tersenyum ikhlas dan tertawa lepas untuk wanita lain saja itu cukup memimbulkan goresan yang pedih.Seperti paku yang ditancapkan ke tembok dan dicabut kembali, tembok tersebut masih ada bekas paku yang menancap, dan tak akan hilang sebelum ada orang yang membubuhkan sesuatu yang padat untuk menutupi bekas paku yang ditancapkan. Mengingat kejadian tadi siang di Ci Mall dan merenunginya, Andre membuatku tersenyum kembali. Ia mengajakku melihat pertunjukan debus didepan Keraton Nipak Tilas Desa Pananjung, Ciamis menari-nari dan tertawa lepas bersamanya. Seperti tak ada hal yang membebani hatiku saat berada disampingnya. Bersamanya aku sampai lupa waktu. Melihat jam ditanganku menunjukkan pukul 22.45 aku sangat panik, aku takut Ibu memarahiku dan tak mengizinkanku untuk keluar rumah lagi.
                “Aaaaaaa…. Ini gimana udah malem banget, aku takut di marahi Ibu”
                “Tenang……….aku akan mengantarkanmu sampai rumah kok” ujar Andre yang menenangkanku dengan cara menaruh kepalaku didadanya dan mendekapku.
Setelah pertunjukan selesai, ia mengantarkanku pulang. Terlihat di depan rumah seperti mobil milik Raffa. Aku penasaran dan masuk ke dalam rumah. Ternyata apa yang ku duga benar, Raffa telah menungguku sejak magrib. Ia menanyakan darimana, dengan siapa dan naik apa aku sampai ke rumah. Aku menjawab dengan jujur, tak peduli apakah Raffa akan membentakku kembali. Karena prinsipku kejujuran adalah kunci dimana suatu hubungan akan berjalan seperti air sungai yang mengalir tenang. Bukan kebohongan, sekecil apapun kebohongan itu pasti akan membuat suatu hubungan menjadi retak seperti air telur yang disentilkan dengan jari.
                “Apa? Kamu masih mau bentak-bentak aku? Larang-larang aku? Hei, kamu ini cuma memiliki hatiku bukan jalan hidupku.” Tegasku dengan nada tinggi yang membuat Raffa sedikit terlihat memikirkan kalimat yang ku lontarkan.
                “Tapi kamu kalau main sampai lupa waktu. Inget kamu itu punya pacar, aku kayak gini karena aku sayang sama kamu Diana. Aku gak mau kehilangan kamu”
                “Kalau memang sayang apa harus ngebohong? Hari ini hari anniversary kita yang ke 16bulan. Aku minta ditemenin ke toko buku aja kamu pakai ngebohong mau nemenin Mamamu ke butik. Aku ngerasa cuma dijadiin pajangan sama kamu. Statusnya dimilikkin tapi gak pernah dijaga. Kalau kamu lebih asyik sendiri buat apa kamu macarin aku?”
Raffa hanya terdiam tak menjawab pertanyaanku. Aku menyuruh ia untuk kembali ke rumah.
******
Pagi harinya. Saat ku melihat layar ponselku ada dua pesan yang masuk. Pertama dari Raffa yang berisikan ucapan selamat pagi dan permintaan maafnya untuk kesalahan yang ia perbuat tadi malam. Dan yang kedua dari Andre berisikan ucapan selamat pagi dan mengajakku untuk bersepeda ke perkebunan teh. Dengan semangat 45 aku bergegas mandi-pakai baju-sarapan dan menyuruh bibi untuk menyiapkan sepeda. Ku lihat dari jendela Andre telah menunggu di bawah dan aku segera menemuinya.
                “Pagi cantik, udah siap?” sambut hangat Andre yang mencubit pipiku
                “Aduh… sakit tau pipiku kamu cubit, udah dong yuk kita berangkat. Eh emangnya kita mau kemana?” keluhku manja dan mengiyakan pertanyaannya dan bertanya kembali.
                “Kita mau kesana” jawab Andre sambil yang  mengarahkan tangannya pada perbukitan.
Kami bersepeda ke Bukit Gunung Guntur yang terletak di desa Pananjung, Kecamatan Pangandaran, Ciamis Jawa Barat, melewati jalan penuh ardenaline. “Hap Hap Hap” teriak kami ketika melintasi bebatuan. Aku yang kehilangan kendali saat mengendarai sepeda terjatuh saat sebuah sepeda motor melintas disamping jalan. Andre yang melihatku terjatuh membanting sepedanya dan menghampiriku. Aku tak bisa menggowes sepeda karena kakiku yang luka. Akhirnya andre memboncengku dengan sepedanya. Tiba di perkebunan teh, aku mencari Andre. Sepertinya ia meninggalkanku. Aku berdiri diantara lukisan Tuhan. Aku berfikir untuk melukis apa yang ku rasakan saat ini diatas kanvas putih. Ku nikmati hembusan angin sejuk di pagi hari. Ku mulai dari titik, garis dan bersatu menjadi bentuk yang sempurna. Kali ini aku melukis dengan warna-warna yang cerah, secerah perasaanku. Setelah melukis aku mencari Andre di antara pohon teh yang hijau. Aku berteriak memanggil namanya agar ia dapat mendengarku. Tiba-tiba seseorang menutup mataku sambil berkata “Kamu gak usah teriak-teriak manggil aku gitu, sebelum kamu teriak aku udah denger kok dari hati” mendengar suaranya, mirip dengan suara Andre. Aku berbalik arah sambil membuka mata, dan benar. Andre melakukan hal yang membuatku salah tingkah. Kemudian ia memberikanku setangkai mawar merah. Aku mengambilnya dan berlari, ia pun mengejarku. Kami bermain kejar-kejaran seperti anak kecil. Mengumpat dibalik pohon teh dan berlari lagi. Selama kami berlari, aku merasa lelah dan kakiku tersandung ranting. Dengan segera Andre menarik tanganku, ia kehilangan keseimbangan dan aku terjatuh di pelukannya. Bola mataku dan bola matanya saling menatap. Aku bisa membaca ia benar-benar menyayangiku dan ingin menjagaku. Selang beberapa detik kami menghentikan tatapan terlarang tersebut. Aku takut jatuh cinta kepadanya. Karena dari mata lah hati dapat berbicara. Tapi kini yang ku takutkan benar-benar terjadi. Aku memang jatuh cinta kepadanya. Ya Tuhan, mengapa perasaan ini hadir tanpa aku memintanya?
                “Dre aku boleh cerita sama kamu gak?”
                “Cerita apa? Telingaku siap mendengarkan apa yang hati kamu ingin katakan kok”
                “Kamu tahu kan Raffa itu pacarku? Meskipun aku udah punya pacar tetap saja aku masih ngerasa sendirian. Tetap saja hanya aku yang berjuang, tetap saja aku yang berkorban. Dan tetap saja aku masih menjadi bonekanya. Aku gak tahan kalau harus menjalani hubungan tanpa kejelasan. Pacaran tapi kayak gak pacaran, dibilang putus ya memang masih pacaran. Aku ngerasa cuma dijadiin sebagai pelengkap statusnya saja. Aku ngerasa hubungan yang aku jalani selama 16bulan ini penuh drama padahal nyatanya aku mencintainya. Jika benar ia hanya berpura-pura denganku berarti selama ini aku telah membuang waktuku yang berharga itu dengan percuma bersama orang yang menyia-nyiakan ku. Dan aku pelit waktu dengan orang yang sayang padaku.”
                “Pacaran itu sekedar status kok. Kalau kamu ngerasanya hubunganmu itu adalah sandiwara, lebih baik akhiri saja. Pacaran itu menyangkut soal hati. Apabila kamu merasa terbebani oleh status tersebut dan tetap mempertahankan orang yang tak pernah memperjuangkanmu kamu akan menyakiti hati kamu sendiri. Pacaran itu keduanya harus saling memperjuangkan, bukan cuma satu orang. Sayang itu gak harus pacaran Diana, buktinya kita gak pacaran tapi melakukan hal seperti orang pacaran kan? Jika kamu ingin menangis, menangislah. Karena Tuhan menghitung setiap tetes air mata. Semakin banyak air mata yang ia keluarkan, maka Tuhan sangat mengetahui bahwa hatinya benar-benar terluka dan membutukan malaikat yang dapat menghapus airmata dan luka dihatinya”
                “Kamu tahu gak malaikat yang menghapus air mata dan lukaku itu siapa? Malaikatnya itu kamu Dre”
                “Aku ingin mengutarakan perasaanku padamu. Sejak pertama kali kita bertemu di Pameran Lukisan Franchise di CCC di alun-alun Desa Pananjung aku merasakan hal yang berbeda. Aku mendengar bisikan dari hatiku bahwa aku harus menjagamu. Aku ingin sekali memilikimu, tetapi aku ingat bahwa cinta itu gak harus memiliki”
Aku merenungkan kata-katanya. Hari sudah petang, kami memutuskan untuk kembali ke rumah. Kami pulang sambil menuntun sepeda agar percakapanku dengan Andre tidak cepat berakhir. Saat perjalanan sebuah mobil sport merah berhenti dihadapan kami. Aku menduga bahwa mobil tersebut adalah milik Raffa. Si pengemudi membuka pintu dan keluar dari mobil. Ternyata benar, Raffa orangnya. Ia mendapatiku tengah berboncengan dengan laki-laki lain. Tanpa basa-basi Raffa langsung memukul Andre. Aku terkejut dan berusaha agar Raffa menghentikan pukulannya. Aku sudah tidak tahan atas ulah Raffa yang kekanak-kanakan. Aku membuka mobil Raffa dan terdapat seorang wanita yang ku lihat waktu di Mall. Ku tarik paksa wanita itu agar keluar dari mobil. Aku menanyakan siapa wanita yang saat ini bersama Raffa. Gelap mata aku langsung melontarkan kata terlarang dalam suatu hubungan. Aku sudah tak sanggup apabila terus bersamanya. Ternyata aku hanya dijadikan batu loncatan agar ia dapat mengambil hati Ibuku untuk bekerja sama dengan Mamanya. Benar, hubungan yang ku jalani ini adalah sandiwara dan aku dijadikan wayang, Raffa lah dalangnya. Ku layangkan tanganku dan mendarat dipipinya. Aku menarik tangan Andre dan mengajaknya pergi dari hadapan pasangan munafik tersebut.
*****
Tiba-tiba hujan deras mengguyur Kota Ciamis. Aku mencari tempat untuk berteduh karena aku benci hujan. Tetapi disini tak ada tempat untuk berteduh. Aku terus berlari sambil menggandeng tangan Andre. Namun ketika kami hendak berlari kembali, Andre terjatuh. Aku membantunya untuk bangkit, akan tetapi ia tak memiliki kekuatan untuk berdiri. Wajahnya sangat pucat. Ku telakkan kepalanya diatas pahaku sambil memeluknya. Tak peduli rasa benciku terhadap hujan, aku tetap ingin bersamanya. Aku mencari bantuan disetiap mobil yang lewat namun tak ada seorangpun yang membantu. Terlintas dipikiranku untuk menghubungi Ayah. Ayah segera datang menjemput kami. Aku dan Ayah membawa Andre ke rumah sakit. Tak ada rumah sakit yang dekat dari sini, terpaksa harus ke alun-alun Kota. Ternyata jalan menuju alun-alun sedang ada perbaikan, terpaksa harus mencari jalan yang lebih jauh lagi. Di pangkuanku Andre terlihat seperti orang sakit parah, tubuhnya menggigil, bibirnya pucat dan wajahnya menguning. Aku sangat panik melihat kondisinya yang sangat mengkhawatirkan tesebut.
Sesampainya di Rumah Sakit Citra Banjar, Andre segera dilarikan ke ruang Unit Gawat Darurat. Aku  menunggu di luar ruang tersebut dan mendoakannya. Satu jam berlalu. Tak ada kabar dari dokter yang menangani Andre. Dan dokter keluar dari ruangan tersebut dan memanggilku untuk menemaninya. Di dalam ruangan, air mataku menetes melihat kondisi Andre yang begitu lemah menggunakan alat bantuan pernafasan dan denyut jantung. Ku lihat di monitor, denyut nadinya sangat lemah dan semakin melemah. Aku sangat mengkhawatirkannya.
“Dre…. Ini aku Diana, di samping kamu. Kamu buka mata kamu dong, kita bukan lagi main petak umpat yang tadi kita lakukan di kebun teh. Dre ayo Dre, bangun” tangisku dihadapannya sambil menggenggam erat tangannya. Meski ia tak melihat aku menangisinya, tetapi aku yakin ia dapat merasakan getirnya hatiku saat ini. Lelahku menangisinya membuat mataku mengantuk dan tertidur. Tanpa ku ketahui ia telah bangun dari komanya. Aku merasakan ia mengelus-elus lembut kepala dan membisikkan tiga kata yang indah, singkat namun penuh makna “Aku sayang kamu”. Terbangun dari tidurku, aku mendengar suara alat denyut nadinya berbunyi hanya satu nada. Tak terdengar nada-nada yang lainnya. Aku terkejut sekaligus panik dan mencari dokter untuk memeriksanya. Dokter datang dan menyuruhku untuk menjauh dari Andre sebentar. Dengan hati-hati dokter memeriksanya. Dokter hanya menggelengkan kepala dan aku sudah tahu jawabannya. Aku tak percaya akan hal ini. Dokter menutupi wajah Andre menggunakan kain. Sungguh hancur perasaanku. Andre meninggalkanku begitu cepat, belum sempat ku katakan maaf dan terimakasih padanya. Keluarga Andre datang menjemputnya.
Pertama kalinya aku melihat dengan mata kepalaku sendiri orang yang aku sayangi dengan pertemuan yang begitu singkat, tertidur damai di dalam peti. Tak henti-hentinya aku menangisi kepergiannya. Setelah ia di masukkan ke dalam rumah masa depannya, kini aku hanya dapat melihatnya dari sebuah bingkai. Hanya dapat disentuh namun tak dapat dirasakan keberadaannya.
                “Kamu yang namanya Diana Suci Larasati?” tanya Ibu Almarhum Andre Prakusumo
                “I…iya benar tante” jawabku yang masih terdengar sendu tangisan
                “Andre banyak bercerita tentangmu, ia mengatakan bahwa ia pertama kali menemukan seorang gadis yang mempunyai hobby yang sama dengannya. Ia mengatakan bahwa ia mencintaimu Diana, tante sempat menyuruhnya untuk berpacaran denganmu tetapi ia tak menyetujuinya,.”
                “Emangnya kenapa tan?”
                “Ia menyadari bahwa ia tak akan membahagiakanmu Diana. Dan akan pergi meninggalkanmu lebih cepat. Sebelum ia pergi, ia menitipkan barang ini untukmu. Tolong simpan baik-baik ya”
Aku dibiarkan sendiri oleh Ibunya agar dapat mengenang Andre. Perlahan aku membuka kotak ini, ternyata kotak ini berisikan beberapa lukisannya. Ia menjadikan ku sebagai objek lukisannya. Terlintas air mata mengalir deras dipipiku. Aku teringat ketika air mata membasahi pipiku, seorang malaikat menghapusnya dengan kasih sayang. Namun kini malaikat tersebut hanya dapat menghapus airmataku dalam kenangan. Lukisan yang ia buat menceritakan pertama kali ia bertemu denganku, melukisku saat aku tertidur, mengisi hari-harinya denganku, dan menutup usianya disampingku. Kanvas-kanvas ini sangat berarti. Kanvas ini merupakan kenanganku bersamanya. Didalam karyanya ia berpesan bahwa aku harus melanjutkan cita-citanya agar menjadi pelukis terkenal. Tak ragu untuk mengikuti pameran lukisan di kota manapun meski tanpa dirinya. Diatas kanvas putih aku akan membuat bermacam bentuk, beraneka warna yang melukiskan aku bahagia saat bersamamu.