Kanvas Kenangan
Siang itu
alam menangis. Aku harus pergi ke Pameran Lukisan Franchise di CCC di alun-alun Desa Pananjung, Kota
Ciamis, Jawa Barat dengan senang hati Ayah mau mengantarkanku ke sana. Pergi
tanpa sepengetahuan Ibu yang tak mendukung bakat lukisku. Di dalam mobil,
seperti biasa yang sering dilakukan anak remaja kini apabila berada dimana-mana
yaitu mendengarkan musik. Ya musik. Sebagian remaja beranggapan bahwa apa bila
tak mendengarkan musik, separuh jiwanya pergi. Setibanya di depan alun-alun, ku
bergegas masuk ke dalam gedung tanpa menggunakan payung. Ku lawan rasa takutku
terhadap hujan. Ku terobos hujan yang deras disertai angin yang kencang, memberi
alasan yang cantik mengapa diriku seperti anak kecil yang senang bermain hujan.
Tepat
di lobby antrian registrasi peserta pameran lukisan tanpa sengaja aku menabrak
seorang laki-laki yang sebaya denganku. Karya lukisannya terjatuh di atas
lantai, aku merasa bersalah dan membereskan lukisan yang berserakan dilantai
itu. Disaat ku mengambil kanvas miliknya, secara bersamaan tangan kami
menyentuh kanvas tersebut. Aku terkejut dan bertatapan mata dengannya. Lima
detik berlalu, kini giliranku untuk mengisi kertas formulir dan melepaskan diri
dari kejadian tersebut. Setelah selesai mengisi formulir, aku langsung menuju
tempat dimana pameran dilaksanakan. Tak ku duga, aku duduk disamping laki-laki
yang ku temui di lobby beberapa menit yang lalu. Kami duduk terdiam seribu
bahasa, hanya terfokus pada pengisi acara di panggung. Tak ada diantara kami yang
memulai pembicaraan.
“Nomor
peserta 0101 dipersilahkan naik ke atas panggung”
Sambutan Mc yang hangat untuk nomor
peserta 0101. Aku hanya menikmati alunan lagu yang ku dengarkan melalui
earphone sambil memainkan gadget. Tiba-tiba laki-laki tersebut melihat gelang
yang ku kenakan bertuliskan nomor peserta 0101.
“Hei,
giliranmu untuk memamerkan karyamu” sapanya yang ramah menegurku untuk naik
keatas panggung, tetapi aku tetap saja tidak mendengarnya. Aku hanya merasa
seseorang telah berbicara kepadaku. Aku melepas earphone dan mematikan gadget
lalu menoleh ke arahnya dan menanyakan apakah ia tadi tengah berbicara
kepadaku.
“Kamu
lagi ngomong sama aku ya?” tanyaku kepadanya dengan polos.
“Iya
tapi kamu tadi gak dengar. Tuh giliranmu untuk memamerkan hasil lukisanmu.”
“Hah?”
Dengan
wajah penuh tanya dan tak membutuhkan jawaban, aku berlari-lari kecil untuk
berdiri diatas panggung yang terhormat tersebut. Ku mulai dari lukisanku
bertemakan ‘Kehilangan’. Secara detail ku deskripsikan lukisanku tersebut.
“Aku menyayanginya tulus karenaNya
tetapi takdir yang tak mengizinkan ku ‘tuk bersatu dengannya” itulah kalimat
penutup untuk mengakhiri deskripsi mengenai lukisan ‘Kehilangan’. Selama kurang
lebih 15menit ku berdiri diatas panggung bergengsi ini, ku rasa aku telah cukup
puas menghibur penonton dengan lukisanku. Aku kembali ke kursi peserta dan
duduk disamping laki-laki tadi.
“Lukisanmu
sangat indah, dan setiap kata yang kamu lantunkan untuk mendeskripsikan
lukisanmu itu sangat menyentuh. Aku menatap indah dan diam terpaku ketika bulan
sabit melukis dibibir mu”
Aku
terkejut. Laki-laki yang tidak aku kenal sebelumnya memujiku begitu saja,
sedikit miris. Raffa kekasihku saja tak pernah mengomentari lukisanku. Ia hanya
mengatakan melukis hanya untuk orang-orang yang larut dalam masalalunya saja.
Bahkan Ayah yang sedikit terpaksa mendukung hobbyku ini belum pernah
mengomentari atau memuji karyaku.
“Kamu
adalah orang yang pertama mengomentari serta memuji lukisanku”
“Haaa?
Aku orang yang berkata seperti itu pertama? Loh bagaimana dengan orang tuamu
atau kekasihmu?”
“Mereka
tidak pernah menghargai serta mengerti perasaanku”
“Oh,maaf
aku gak bermaksud”
“Gak
jadi masalah kok.”
Kami
berbincang-bincang, bersenda gurau cukup lama. Aku belum pernah merasakan senyaman
ini berada didekat seorang laki-laki. Ntah mengapa disaatku berada sisi Raffa
aku ingin pergi meninggalkannya. “Nomor peserta 0121 dipersilahkan untuk naik
ke atas panggung” kini gilirannya untuk memamerkan hasil karyanya tersebut.
Terasa seperti ada yang menggenggam erat tanganku, setelah ku menoleh ternyata
memang ada yang menggenggam tanganku dengan erat yaitu tangannya. Genggamannya
sangat erat, seolah-olah tak ingin melepaskan.
“Aww..
tanganku sakit” aku mencari alasan agar ia melepaskan genggamannya
“Aduh..
maaf , aku kalo demam panggung gini hehe. Aku ke panggung ya, kamu disini
doakan aku oke?”
Ia sama
sepertiku tadi berlari-lari kecil menuju panggung. Aku menyaksikannya dengan
seksama. Ia mendeskripsikan lukisannya yang bertema ‘Cinta Suci’ dengan lafal
serta tata bahasanya yang membuatku tersanjung dengannya. Sebelum menutup
penampilannya ia mengatakan “Cinta itu suci. Datang tanpa kita minta dan pergi
tanpa pamit. Cinta itu tidak pernah salah, tetapi manusia lah yang selalu
menyalah gunakan cinta” aku berdiri dan memberikan tepuk tangan hangat yang
puas karena ku terhibur olehnya.
Pameran
telah selesai, kini saatnya pengumuman. Tak ku duga, aku dan lelaki tersebut
memenangkan pameran bergengsi ini. Aku merasa sangat bahagia dan tanpa disengaja
aku memeluknya karena kesenangan dalam
hatiku ini tak terungkapkan oleh kata-kata. Kami keluar aula dan alam masih
menangis. Seperti ketakutanku akan hujan aku hanya berdiri dibelakangnya untuk
melawan rasa takut.
“Kamu
ngapain ngumpet dibelakang aku?” tanyanya heran
“Eengg..ak
hehe, aku……benci juga takut hujan”
“Loh
kenapa bisa Diana?”
“Ha?
Kamu tau namaku? Kalau tidak salah namamu….. Andre? Hmm iya gitu aku benci
hujan. Soalnya hujan bisa menghapus debu-debu tapi gak bisa menghapus lukaku
makanya aku benci itu.”
“Kita
saling melengkapi ya…….. kamu gak suka hujan, aku suka banget sama hujan.
Soalnya aku bisa ngabisin waktu yang luang buat seseorang yang berada
disampingku”
Tak lama
kami bercakap-cakap, sebuah mobil berhenti dihadapan kami, ia membuka kaca
jendelanya dan ternyata orang itu adalah Raffa ya kekasihku sendiri. Aku tak
ingin diantar pulang olehnya, aku masih ingin menikmati kenyamananku bersama
Andre. Raffa yang terbakar api cemburu menarik tanganku dengan paksa dan
memasukkan aku ke dalam mobilnya tanpa pamit dengan Andre. Raffa mengemudikan
mobilnya dengan kecepatan tak wajar, aku sangat takut. Kami bertengkar hebat
didalam mobil. Aku yang lemah saat dibentaknya tak dapat memberikan alasan
mengapa aku berdua dengan laki-laki lain. Aku hanya mengatakan apa yang hatiku
katakan. Namun tetap saja Raffa masih memarahiku. Kemudian selang beberapa saat
Raffa melihat mendali indah yang mengalungi leherku.
“Kamu
menang? Selamat ya, aku gak percaya kamu punya bakat melukis”
Itulah
kalimat yang dilontarkan Raffa untukku. Singkat tapi berarti, baru pertama
kalinya kekasihku sendiri memujiku sambil mengelus-elus kepalaku dan mencium
keningku. Ya Tuhan, belum pernah aku merasakan sisi lembutnya Raffa. Setelah 16
bulan menjalin hubungan dan pertama kalinya ia menunjukan sikap romantisnya
terhadapku. Yang ku rasakan hanyalah kepedihan, pengekangan olehnya.
Sesampainya di rumah aku masuk dengan mengendap-ngendap karena hari sudah
malam. Ku lihat Mama sudah tidur, aku pun segera masuk ke kamar dan tidur cantik.
Pagi harinya aku memutuskan untuk pergi ke toko buku mencari novel terbaru.
Terpikir olehku untuk mengajak Raffa agar ia menemaniku. Tetapi hal itu sia-sia
Raffa menolak ajakanku dengan alasan ia harus menemani Mamanya ke butik. Ku
putuskan untuk pergi seorang diri.
*****
Seperti
biasa aku pergi mengenakan jaket merah, celana pendek dan earphone yang ku
pakai ditelingaku. Saat hendak mengambil novel yang ku cari, ada tangan
seseorang yang ingin mengambil novel tersebut. Dan ternyata………….Andre ya Andre!
Ntah mengapa ia seperti malaikat yang hadir disaat aku membutuhkan seseorang
untuk membuatku senang. Disaat itu pula aku dan Andre memperebutkan novel itu
dengan cara yang biasa dilakukan oleh anak kecil. Kami bermain
kertas-gunting-batu dan akhirnya aku yang memenangkan novel itu. Kami
berjalan-jalan di sekitar Ci Mall, Ciamis. Di restoran Ci Mall tersebut
sepintas aku melihat seseorang mirip sekali dengan Raffa. Aku penasaran dan
ingin membayar rasa keingintahuanku dengan melihatnya lebih dekat untuk
memastikan. Ternyata dugaanku benar, Raffa sedang makan siang dan menyuapi
wanita lain yang tak ku kenal. Aku tak mau menegurnya, hanya membiarkannya ia
menyadari kesalahan yang telah ia perbuat. Sakit, sesak, perih, pahit, down,
batin semua rasa bercampur dengan sakit hati yang ku rasakan setelah melihat
semuanya. Aku berlari ke toilet dan Andre menarik tanganku, perasaanku sangat
kalut, aku melepaskan genggaman tangan Andre namun ia tetap saja mengejarku. Ia
bersikeras menarik tanganku lalu memelukku dan membiarkanku menangis
dipelukannya. Keluar dari Ci Mall, kami berjalan menyusuri ramainya Kota
Ciamis. Aku merasa lapar Andre pun sama. Kemudian kami masuk ke Rumah Makan
Sunda untuk mencicipi makanan khas Ciamis. Kami menyantapi Galendo dan Pindang
Gunung yang merupakan makanan sejenis sop ikan yang diracik dengan bumbu-bumbu
yang lezat.Setelah perut kami terisi penuh, kami kembali melanjutkan perjalanan
tanpa arah. Saat itu Andre mengajakku ke suatu tempat dimana tempat itu
benar-benar membuat perasaanku menjadi tenang. Ia membiarkanku duduk menenangkan
diri ditepi Danau Panjalu. Danau ini begitu nyaman dan indah, disekeliling
danau terdapat tanaman ilalang dan bunga-bunga. Meskipun aku baru pertama kalinya mengunjungi tempat ini, tapi memang
benar perasaanku yang kalut tadi kini menjadi tenang. Aku masih memikirkan dan
menangisi Raffa yang membohongiku. Tak lama kemudian Andre menghampiriku.
Melihat wajahku penuh air mata, dengan sentuhan tangannya yang lembut dan penuh
perasaan, perlahan ia menghapus air mataku.
“Aku gak
mau liat kamu nangis lagi karena cowok. Menangislah karena dosa dan kedua
orangtuamu” katanya dengan tangan kanan memegang pipiku dan tangan kiri
menggenggam tanganku. Kemudian ia mengajakku untuk naik keatas perahu. Ia
mendayung perahu perlahan. Jemariku menyentuh air danau yang dingin, jernih,
damai penuh kelembutan bila di rasakan.
“Kamu
ada kertas sama pensil gak?” pintaku kepada Andre
“Ada
kok nih” jawab Andre tanpa menanyakan untuk apa benda tersebut aku minta dan
menyodorkannya kepadaku. Kertas putih yang kosong, ku isi dari goresan, titik
hingga bentuk menjadi sebuah gambar dan menjadi lukisan hitam-putih disertai
arsiran pada bentuk yang lain. Tema yang ku gambar ialah ‘Pengkhianatan’ dimana
orang yang telah memberikan kepercayaan penuh terhadap orang lain, dengan
setitik kebohongan yang dilakukan maka hancur sudah kepercayaannya dan sulit
untuk percaya kembali. Dan ‘Pelangi Setelah Hujan’ mendeskripsikan perasaanku
saat ini setelah banyak meneteskan air mata ada seseorang yang menghapusnya dan
membuatku tersenyum kembali.
****
Selesai ku
lukis semilir angin yang menghipnotis mataku. Dan aku pun tertidur
dipelukannya. Aku terbangun dari mimpi indahku. Lalu Andre mengajakku ke
pesisir pantai Pantai Pangandaran yang terletak di Desa Pananjung Kecamatan
Pangandaran, Ciamis Jawa Barat untuk bermain layang-layang. Terbayang olehku
untuk hidup seperti layang-layang, hanya mengikuti arah angin, dan akan terdiam
apabila angin itu damai. Namun aku tak menginginkan nasib layang-layang, bertemu
dengan layang-layang lain dan mengikutinya serta mengikat benang dan saling
bergesekan sehingga putus dan menjauh ntah kemana ia akan mendarat. Tetapi aku
ingin menjadi layang-layang yang putus, dikejar banyak laki-laki dan didapatkan
oleh laki-laki yang benar-benar dapat menjaga layang-layang tersebut, supaya
ketika hendak diterbangkan dan diadu tak akan putus, karena yang memainkannya
menggunakan perasaan bukan emosional. Saatku mengarahkan layang-layangku ia
ikut menarik benang tersebut dan alhasil memegang tanganku.
“Eh
kamu kok ga ngelepasin tanganku? Layang-layangnya putus kan” ujarku manja
“Biarin
aku kehilangan layang-layang yang penting aku ga kehilangan kamu. Kamu mau tau
kenapa aku ga ngelepasin tangan kamu dari genggamanku?”
“Iya
aku ingin tahu”
“Tuhan
menciptakan sela-sela jari tangan yang nantinya akan diisi oleh orang yang
menyayangi kita” sahutnya yang makin erat menggenggam tangan ku lalu
menciumnya.
Tak
ku percaya orang yang baru ku kenal di Pameran Lukisan Franchise di CCC begitu sering mengganti tangisku
menjadi tawa yang lepas. Disisinya aku merasakan kehangatan, kelembutan serta
kenyamanan yang tak dapat ku lukiskan. Ku lihat langit Kota Ciamis yang biru
berubah menjadi jingga, burung camar yang terbang kearah utara, nyiur angin sepoi-sepoi
yang sejuk menyentuh tubuhku. Kepiting-kepiting berjalan ke arah karang. Raja
siang terlihat lelah dan kembali ke barat untuk beristirahat dan berganti
dengan Dewi malam yang telah menunggu sejak fajar tiba. Hamparan pasir putih
yang begesekkan dengan telapak kakiku, desiran ombak yang menyapu damai kakiku
memperindah suasana dan memberikan kenangan yang tak akan terlupakan. Untuk pertama
kalinya aku dapat menikmati sunset bersama orang yang selalu membuatku
tersenyum. Saatku merasakan hembusan tiap angin, menikmati indahnya lukisan
Tuhan terbenam, Ia menutup mataku dari belakang. Sungguh berdebar jantungku
ketika ia menutup mataku.
“Kamu
tetap tutup mata kamu yaa, jangan dibuka sebelum aku nyuruh buka”
“1………….2…………..3………Diana
buka matamu!!!!”
Dan………………….setelahku
membuka mata sungguh tak ku sangka. Ia membuatkan tempat untuk makan malam kami
berdua diatas karang dan lilin-lilin disekelilingnya. Haripun berganti malam,
saat menikmati makan malam terlintas dipikiranku akan Raffa. Dalam hati selalu
menanyakan mengapa Raffa tak pernah membuat kejutan seromantis ini? Mengapa
Andre yang bukan kekasihku dapat melakukannya? Ku kubur dalam-dalam pertanyaan
itu didalam hati dan aku tetap menikmati makan malamku dengan Andre.
*****
Hari
semakin larut. Ombak semakin pasang. Bintang bertaburan dilangit dan bersama
bulan purnama disisinya. Aku bergegas untuk kembali ke rumah dan meminta Andre
agar menemani langkahku menuju rumah. Diperjalanan kami jalan berdua menikmati
hembusan angin malam layaknya sepasang kekasih. Aku menginginkan hal ini
terjadi pada Raffa tetapi pupus sudah. Melihat orang yang ku sayangi tersenyum
ikhlas dan tertawa lepas untuk wanita lain saja itu cukup memimbulkan goresan
yang pedih.Seperti paku yang ditancapkan ke tembok dan dicabut kembali, tembok
tersebut masih ada bekas paku yang menancap, dan tak akan hilang sebelum ada
orang yang membubuhkan sesuatu yang padat untuk menutupi bekas paku yang
ditancapkan. Mengingat kejadian tadi siang di Ci Mall dan merenunginya, Andre
membuatku tersenyum kembali. Ia mengajakku melihat pertunjukan debus didepan
Keraton Nipak Tilas Desa Pananjung, Ciamis menari-nari dan tertawa lepas
bersamanya. Seperti tak ada hal yang membebani hatiku saat berada disampingnya.
Bersamanya aku sampai lupa waktu. Melihat jam ditanganku menunjukkan pukul
22.45 aku sangat panik, aku takut Ibu memarahiku dan tak mengizinkanku untuk
keluar rumah lagi.
“Aaaaaaa….
Ini gimana udah malem banget, aku takut di marahi Ibu”
“Tenang……….aku
akan mengantarkanmu sampai rumah kok” ujar Andre yang menenangkanku dengan cara
menaruh kepalaku didadanya dan mendekapku.
Setelah
pertunjukan selesai, ia mengantarkanku pulang. Terlihat di depan rumah seperti
mobil milik Raffa. Aku penasaran dan masuk ke dalam rumah. Ternyata apa yang ku
duga benar, Raffa telah menungguku sejak magrib. Ia menanyakan darimana, dengan
siapa dan naik apa aku sampai ke rumah. Aku menjawab dengan jujur, tak peduli
apakah Raffa akan membentakku kembali. Karena prinsipku kejujuran adalah kunci
dimana suatu hubungan akan berjalan seperti air sungai yang mengalir tenang.
Bukan kebohongan, sekecil apapun kebohongan itu pasti akan membuat suatu
hubungan menjadi retak seperti air telur yang disentilkan dengan jari.
“Apa?
Kamu masih mau bentak-bentak aku? Larang-larang aku? Hei, kamu ini cuma
memiliki hatiku bukan jalan hidupku.” Tegasku dengan nada tinggi yang membuat
Raffa sedikit terlihat memikirkan kalimat yang ku lontarkan.
“Tapi
kamu kalau main sampai lupa waktu. Inget kamu itu punya pacar, aku kayak gini
karena aku sayang sama kamu Diana. Aku gak mau kehilangan kamu”
“Kalau
memang sayang apa harus ngebohong? Hari ini hari anniversary kita yang ke
16bulan. Aku minta ditemenin ke toko buku aja kamu pakai ngebohong mau nemenin
Mamamu ke butik. Aku ngerasa cuma dijadiin pajangan sama kamu. Statusnya
dimilikkin tapi gak pernah dijaga. Kalau kamu lebih asyik sendiri buat apa kamu
macarin aku?”
Raffa hanya terdiam tak menjawab
pertanyaanku. Aku menyuruh ia untuk kembali ke rumah.
******
Pagi
harinya. Saat ku melihat layar ponselku ada dua pesan yang masuk. Pertama dari
Raffa yang berisikan ucapan selamat pagi dan permintaan maafnya untuk kesalahan
yang ia perbuat tadi malam. Dan yang kedua dari Andre berisikan ucapan selamat
pagi dan mengajakku untuk bersepeda ke perkebunan teh. Dengan semangat 45 aku
bergegas mandi-pakai baju-sarapan dan menyuruh bibi untuk menyiapkan sepeda. Ku
lihat dari jendela Andre telah menunggu di bawah dan aku segera menemuinya.
“Pagi
cantik, udah siap?” sambut hangat Andre yang mencubit pipiku
“Aduh…
sakit tau pipiku kamu cubit, udah dong yuk kita berangkat. Eh emangnya kita mau
kemana?” keluhku manja dan mengiyakan pertanyaannya dan bertanya kembali.
“Kita
mau kesana” jawab Andre sambil yang
mengarahkan tangannya pada perbukitan.
Kami bersepeda ke
Bukit Gunung Guntur yang
terletak di desa Pananjung, Kecamatan Pangandaran, Ciamis Jawa Barat, melewati
jalan penuh ardenaline. “Hap Hap Hap” teriak kami ketika melintasi bebatuan. Aku
yang kehilangan kendali saat mengendarai sepeda terjatuh saat sebuah sepeda
motor melintas disamping jalan. Andre yang melihatku terjatuh membanting
sepedanya dan menghampiriku. Aku tak bisa menggowes sepeda karena kakiku yang
luka. Akhirnya andre memboncengku dengan sepedanya. Tiba di perkebunan teh, aku
mencari Andre. Sepertinya ia meninggalkanku. Aku berdiri diantara lukisan
Tuhan. Aku berfikir untuk melukis apa yang ku rasakan saat ini diatas kanvas
putih. Ku nikmati hembusan angin sejuk di pagi hari. Ku mulai dari titik, garis
dan bersatu menjadi bentuk yang sempurna. Kali ini aku melukis dengan
warna-warna yang cerah, secerah perasaanku. Setelah melukis aku mencari Andre
di antara pohon teh yang hijau. Aku berteriak memanggil namanya agar ia dapat
mendengarku. Tiba-tiba seseorang menutup mataku sambil berkata “Kamu gak usah
teriak-teriak manggil aku gitu, sebelum kamu teriak aku udah denger kok dari
hati” mendengar suaranya, mirip dengan suara Andre. Aku berbalik arah sambil
membuka mata, dan benar. Andre melakukan hal yang membuatku salah tingkah.
Kemudian ia memberikanku setangkai mawar merah. Aku mengambilnya dan berlari,
ia pun mengejarku. Kami bermain kejar-kejaran seperti anak kecil. Mengumpat
dibalik pohon teh dan berlari lagi. Selama kami berlari, aku merasa lelah dan
kakiku tersandung ranting. Dengan segera Andre menarik tanganku, ia kehilangan
keseimbangan dan aku terjatuh di pelukannya. Bola mataku dan bola matanya
saling menatap. Aku bisa membaca ia benar-benar menyayangiku dan ingin
menjagaku. Selang beberapa detik kami menghentikan tatapan terlarang tersebut.
Aku takut jatuh cinta kepadanya. Karena dari mata lah hati dapat berbicara.
Tapi kini yang ku takutkan benar-benar terjadi. Aku memang jatuh cinta
kepadanya. Ya Tuhan, mengapa perasaan ini hadir tanpa aku memintanya?
“Dre
aku boleh cerita sama kamu gak?”
“Cerita
apa? Telingaku siap mendengarkan apa yang hati kamu ingin katakan kok”
“Kamu
tahu kan Raffa itu pacarku? Meskipun aku udah punya pacar tetap saja aku masih
ngerasa sendirian. Tetap saja hanya aku yang berjuang, tetap saja aku yang
berkorban. Dan tetap saja aku masih menjadi bonekanya. Aku gak tahan kalau
harus menjalani hubungan tanpa kejelasan. Pacaran tapi kayak gak pacaran,
dibilang putus ya memang masih pacaran. Aku ngerasa cuma dijadiin sebagai
pelengkap statusnya saja. Aku ngerasa hubungan yang aku jalani selama 16bulan
ini penuh drama padahal nyatanya aku mencintainya. Jika benar ia hanya
berpura-pura denganku berarti selama ini aku telah membuang waktuku yang
berharga itu dengan percuma bersama orang yang menyia-nyiakan ku. Dan aku pelit
waktu dengan orang yang sayang padaku.”
“Pacaran
itu sekedar status kok. Kalau kamu ngerasanya hubunganmu itu adalah sandiwara,
lebih baik akhiri saja. Pacaran itu menyangkut soal hati. Apabila kamu merasa
terbebani oleh status tersebut dan tetap mempertahankan orang yang tak pernah
memperjuangkanmu kamu akan menyakiti hati kamu sendiri. Pacaran itu keduanya
harus saling memperjuangkan, bukan cuma satu orang. Sayang itu gak harus
pacaran Diana, buktinya kita gak pacaran tapi melakukan hal seperti orang
pacaran kan? Jika kamu ingin menangis, menangislah. Karena Tuhan menghitung
setiap tetes air mata. Semakin banyak air mata yang ia keluarkan, maka Tuhan
sangat mengetahui bahwa hatinya benar-benar terluka dan membutukan malaikat
yang dapat menghapus airmata dan luka dihatinya”
“Kamu
tahu gak malaikat yang menghapus air mata dan lukaku itu siapa? Malaikatnya itu
kamu Dre”
“Aku
ingin mengutarakan perasaanku padamu. Sejak pertama kali kita bertemu di
Pameran Lukisan Franchise di CCC di
alun-alun Desa Pananjung aku merasakan hal yang berbeda. Aku mendengar bisikan
dari hatiku bahwa aku harus menjagamu. Aku ingin sekali memilikimu, tetapi aku
ingat bahwa cinta itu gak harus memiliki”
Aku
merenungkan kata-katanya. Hari sudah petang, kami memutuskan untuk kembali ke
rumah. Kami pulang sambil menuntun sepeda agar percakapanku dengan Andre tidak
cepat berakhir. Saat perjalanan sebuah mobil sport merah berhenti dihadapan
kami. Aku menduga bahwa mobil tersebut adalah milik Raffa. Si pengemudi membuka
pintu dan keluar dari mobil. Ternyata benar, Raffa orangnya. Ia mendapatiku
tengah berboncengan dengan laki-laki lain. Tanpa basa-basi Raffa langsung
memukul Andre. Aku terkejut dan berusaha agar Raffa menghentikan pukulannya.
Aku sudah tidak tahan atas ulah Raffa yang kekanak-kanakan. Aku membuka mobil
Raffa dan terdapat seorang wanita yang ku lihat waktu di Mall. Ku tarik paksa
wanita itu agar keluar dari mobil. Aku menanyakan siapa wanita yang saat ini
bersama Raffa. Gelap mata aku langsung melontarkan kata terlarang dalam suatu
hubungan. Aku sudah tak sanggup apabila terus bersamanya. Ternyata aku hanya
dijadikan batu loncatan agar ia dapat mengambil hati Ibuku untuk bekerja sama
dengan Mamanya. Benar, hubungan yang ku jalani ini adalah sandiwara dan aku
dijadikan wayang, Raffa lah dalangnya. Ku layangkan tanganku dan mendarat
dipipinya. Aku menarik tangan Andre dan mengajaknya pergi dari hadapan pasangan
munafik tersebut.
*****
Tiba-tiba
hujan deras mengguyur Kota Ciamis. Aku mencari tempat untuk berteduh karena aku
benci hujan. Tetapi disini tak ada tempat untuk berteduh. Aku terus berlari
sambil menggandeng tangan Andre. Namun ketika kami hendak berlari kembali,
Andre terjatuh. Aku membantunya untuk bangkit, akan tetapi ia tak memiliki
kekuatan untuk berdiri. Wajahnya sangat pucat. Ku telakkan kepalanya diatas
pahaku sambil memeluknya. Tak peduli rasa benciku terhadap hujan, aku tetap
ingin bersamanya. Aku mencari bantuan disetiap mobil yang lewat namun tak ada
seorangpun yang membantu. Terlintas dipikiranku untuk menghubungi Ayah. Ayah
segera datang menjemput kami. Aku dan Ayah membawa Andre ke rumah sakit. Tak
ada rumah sakit yang dekat dari sini, terpaksa harus ke alun-alun Kota.
Ternyata jalan menuju alun-alun sedang ada perbaikan, terpaksa harus mencari
jalan yang lebih jauh lagi. Di pangkuanku Andre terlihat seperti orang sakit
parah, tubuhnya menggigil, bibirnya pucat dan wajahnya menguning. Aku sangat panik
melihat kondisinya yang sangat mengkhawatirkan tesebut.
Sesampainya
di Rumah Sakit Citra Banjar, Andre segera dilarikan ke ruang Unit Gawat
Darurat. Aku menunggu di luar ruang
tersebut dan mendoakannya. Satu jam berlalu. Tak ada kabar dari dokter yang
menangani Andre. Dan dokter keluar dari ruangan tersebut dan memanggilku untuk
menemaninya. Di dalam ruangan, air mataku menetes melihat kondisi Andre yang
begitu lemah menggunakan alat bantuan pernafasan dan denyut jantung. Ku lihat
di monitor, denyut nadinya sangat lemah dan semakin melemah. Aku sangat
mengkhawatirkannya.
“Dre…. Ini
aku Diana, di samping kamu. Kamu buka mata kamu dong, kita bukan lagi main
petak umpat yang tadi kita lakukan di kebun teh. Dre ayo Dre, bangun” tangisku
dihadapannya sambil menggenggam erat tangannya. Meski ia tak melihat aku
menangisinya, tetapi aku yakin ia dapat merasakan getirnya hatiku saat ini.
Lelahku menangisinya membuat mataku mengantuk dan tertidur. Tanpa ku ketahui ia
telah bangun dari komanya. Aku merasakan ia mengelus-elus lembut kepala dan
membisikkan tiga kata yang indah, singkat namun penuh makna “Aku sayang kamu”.
Terbangun dari tidurku, aku mendengar suara alat denyut nadinya berbunyi hanya
satu nada. Tak terdengar nada-nada yang lainnya. Aku terkejut sekaligus panik
dan mencari dokter untuk memeriksanya. Dokter datang dan menyuruhku untuk
menjauh dari Andre sebentar. Dengan hati-hati dokter memeriksanya. Dokter hanya
menggelengkan kepala dan aku sudah tahu jawabannya. Aku tak percaya akan hal
ini. Dokter menutupi wajah Andre menggunakan kain. Sungguh hancur perasaanku.
Andre meninggalkanku begitu cepat, belum sempat ku katakan maaf dan terimakasih
padanya. Keluarga Andre datang menjemputnya.
Pertama
kalinya aku melihat dengan mata kepalaku sendiri orang yang aku sayangi dengan
pertemuan yang begitu singkat, tertidur damai di dalam peti. Tak henti-hentinya
aku menangisi kepergiannya. Setelah ia di masukkan ke dalam rumah masa
depannya, kini aku hanya dapat melihatnya dari sebuah bingkai. Hanya dapat
disentuh namun tak dapat dirasakan keberadaannya.
“Kamu
yang namanya Diana Suci Larasati?” tanya Ibu Almarhum Andre Prakusumo
“I…iya
benar tante” jawabku yang masih terdengar sendu tangisan
“Andre
banyak bercerita tentangmu, ia mengatakan bahwa ia pertama kali menemukan
seorang gadis yang mempunyai hobby yang sama dengannya. Ia mengatakan bahwa ia
mencintaimu Diana, tante sempat menyuruhnya untuk berpacaran denganmu tetapi ia
tak menyetujuinya,.”
“Emangnya
kenapa tan?”
“Ia
menyadari bahwa ia tak akan membahagiakanmu Diana. Dan akan pergi
meninggalkanmu lebih cepat. Sebelum ia pergi, ia menitipkan barang ini untukmu.
Tolong simpan baik-baik ya”
Aku
dibiarkan sendiri oleh Ibunya agar dapat mengenang Andre. Perlahan aku membuka
kotak ini, ternyata kotak ini berisikan beberapa lukisannya. Ia menjadikan ku
sebagai objek lukisannya. Terlintas air mata mengalir deras dipipiku. Aku
teringat ketika air mata membasahi pipiku, seorang malaikat menghapusnya dengan
kasih sayang. Namun kini malaikat tersebut hanya dapat menghapus airmataku
dalam kenangan. Lukisan yang ia buat menceritakan pertama kali ia bertemu
denganku, melukisku saat aku tertidur, mengisi hari-harinya denganku, dan
menutup usianya disampingku. Kanvas-kanvas ini sangat berarti. Kanvas ini
merupakan kenanganku bersamanya. Didalam karyanya ia berpesan bahwa aku harus
melanjutkan cita-citanya agar menjadi pelukis terkenal. Tak ragu untuk
mengikuti pameran lukisan di kota manapun meski tanpa dirinya. Diatas kanvas
putih aku akan membuat bermacam bentuk, beraneka warna yang melukiskan aku
bahagia saat bersamamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar