Daftar Blog Saya

Selasa, 04 September 2012

Sempat Memiliki


Pagi itu aku melihat layar handphone dan tiada pesan ucapan “Selamat ulang tahun  sayang” darinya. Yang ku lihat hanyalah semua pesan dari sahabat-sahabatku. Awalnya yang ku harapkan adalah sebuah ucapan darinya, walaupun melalui pesan singkat aku merasa sangat bahagia dan berharga untukku bila ia mengirimnya padaku. Namun harapan tinggal harapan. Aku merasa kecewa dan bertanya pada hatiku “apakah ia melupakan tanggal ini? Apakah ia lupa dimana hari aku dilahirkan sekaligus anniversary kami yang ke 24bulan?” ku pendam semua keluhanku ini dalam-dalam meski pahit menelannya, ku abaikan hal ini dan menganggap Vino mengingatnya. Saat perjalanan menuju sekolah di dalam mobil aku masih memikirkan hal ini sambil melihat ke layar handphone siapa tau Vino mengirimkan pesan singkat padaku, ternyata aku masih mengharapkan hal tersebut. Setibanya di sekolah aku berjalan menuju kelas dan melihat Vino yang berdiri di depan koridor sambil berkumpul bersama gadis cantik di sekolah. Aku melewatinya, ku pikir Vino akan menyapaku pagi ini namun sayangnya hal tersebut merupakan harapan yang tak akan terwujud. Beberapa kerabatku menghampiri dan memberikan ucapan selamat. Aku memasang senyum palsu, berpura-pura bahagia meskipun sebenarnya hatiku menjerit. Sekilas ku lirik ke arah Vino, akan tetapi ia tetap tak memperdulikanku. Ia tetap menikmati menebarkan pesonanya pada gadis lain.
Kemudian aku segera ke kelas, sahabatku Lina memberikan kejutan dengan menutup mataku menggunakan tangannya. Aku mengira tangan tersebut adalah tangan Vino ternyata prasangka ku salah kembali. Serontak senyum bahagiaku luntur saat mengira tangan itu adalah tangan Vino. “Kok cemberut sih? Gak seneng ya Ra?” Tanya Lina dengan wajah bersalah. “E..engga.. kok seneng gue hehe, gue kira tangan Vino eh gataunya lo Lin hehe” singkat jawabanku dengan menggunakan senyum palsu. “Lo kenapa sih? Ini kan hari ulang tahun sekaligus anniversary lo, senyum dong senyum jangan kayak kepaksa gitu. Oya udah dikasih kejutan belum sama Vino?” Tanya Lina yang ingin mengetahui. “Ah kepo lo Lin” tegasku untuk menghentikan pembicaraan. Dalam kelas aku memperhatikan ke arah bangku Vino dan aku melihat ia tengah asyik bermain dengan ponselnya sambil senyum-senyum. Aku melihat kembali ke layar ponselku dan tak ada satupun pesan darinya. Saat menuju kantin aku menarik tangan Vino agar ia menjelaskan semuanya, namun ia melepaskan genggaman tanganku dengan paksa. Aku merasa bingung atas sikapnya yang sekarang. Setibanya di kantin saat aku hendak memesan makanan aku melihat Vino duduk berdua dengan gadis lain. Melihat kejadian tersebut nafsu makan ku hilang dan segera kembali ke kelas. Seketika bel berbunyi. Saat pertengahan pelajaran hidungku mengeluarkan darah dan aku segera meminta izin kepada guru untuk ke toilet. Tubuhku gemetar dan tak kuat untuk berjalan. Akupun terjatuh pingsan saat keluar dari pintu kelas. Semua teman dan guru yang melihatku terjatuh segera menghampiri dan membawaku ke ruang klinik sekolah. “Vino…….!!! Vino……!!!” teriak Lina memanggil Vino yang bermaksud agar membawaku ke klinik sekolah. “Apaansih? Lo gak liat gue lagi ngapain? Gue lagi ngerjain fisika! Suruh yang lain aja kenapa sih buat bawa Clara ke klinik!” jawab Vino ketus seolah-olah tak memperdulikan kondisi kekasihnya. “Dia tuh siapa-siapanya lo bukan orang lain yang gak lo kenal!!”. Dengan segera teman dan guru membawaku ke klinik sekolah. Selang beberapa menit kemudian aku siuman dan kembali ke kelas. Ternyata sudah istirahat kedua dan aku berjalan dengan kondisi yang belum pulih, melihat Vino mencium kening Raisa di koridor toilet. Shock dan membuatku down kembali. Aku tak mengerti maksud Vino dibalik sikapnya yang seperti ini, tak terasa ada air yang membasahi pipiku yaitu air mata. Sungguh hancur lebur perasaanku. Aku masih menahan rasa sakit yang telah menyayat hatiku. Sepulang sekolah aku menemui Raisa untuk memberikan penjelasan maksud Vino menciumnya itu apa. “Sa.. Lo dicium Vino? Kenapa gak lo tampar aja dia pas dia mau nyium lo? Lo kan tau dia itu cowok gue!” tanyaku tanpa basa-basi kepada Raisa. “A..e…ee… engga kok mungkin lo salah lihat” jawab Raisa terbata-bata. “Gue gak mungkin salah lihat! Lo kok jahat sih sama gue? Setau gue, gue gak pernah ngejahatin lo. Gue baik sama lo kenapa lo bales gini? Kenapa lo ngekhianatin gue? Kita tuh sama-sama cewek dan lo harusnya ngerti perasaan gue kalo diginiin!!” jelasku dengan nada tinggi sambil menangis. Tiba-tiba Vino datang menghampiri Raisa bukan aku kekasihnya sendiri. “Lo gak usah marah-marah ke Raisa. Gue inget kok hari ini ulang tahun sekaligus hari anniversary kita. Selamat ulang tahun buat lo dan selamat anniversary yang terakhir! Kita putusss!!!!!!” tanggap Vino yang membela Raisa. Aku hanya bias diam membisu dan menangis. Aku tak habis pikir Vino memutuskan ku disaat hari bahagia dalam hidupku. “Vin… Lo tega sama gue. Dihari ulang tahun sekaligus anniversary lo mutusin gue? Lo punya hati engga?!?!?!!” tanyaku tegas dan menangis lalu menampar wajah Vino. Aku pergi meninggalkan Vino dan masuk ke dalam mobil.
Sesampainya di rumah aku langsung masuk dan mengunci kamar. Aku menangis tersedu-sedu hingga lupa makan. Sepintas dipikiranku akan tugas musikalisasi puisi esok hari. Berhubung aku sedang sakit hati ku tuangkan seluruh isi hatiku dalam sebuah lirik lagu. Hingga aku tak tidur sampai besok pagi. Hari ini aku tampil pertama. Ku nyanyikan lirik demi lirik diiringi sebuah gitar. Namun saat menyanyikannya aku menahan air mata, melirik Vino, ia memperhatikan penampilanku. Ku abaikan dia aku hanya menganggap dia seseorang yang tak pernah hadir dalam kehidupanku. “Tak ada kisah tentang cinta yang bisa terhindar dari air mata. Namun ku coba menerima hatiku membuka siap untuk terluka……” tak terasa air mata membasahi pipiku beberapa kerabatku menanyakan mengapa aku menangis disaat pentas. Mereka menyuruh Vino untuk melihat penampilanku ini. Aku benar-benar tak kuasa menahannya, akupun bernyanyi sambil menangis. “Cinta tak mungkin berhenti…..secepat saat aku jatuh hati. Jatuhkan hatiku kepadamu sehingga hidupku pun berarti. Cinta tak mudah berganti….tak mudah berganti jadi benci walau kini aku harus pergi……tuk sembuhkan hati……….. Walau seharusnya bisa saja dulu aku menghindar dari pahitnya cinta. Namun ku pilih begini biarku terima, sakit demi jalani cinta……………..”  usai sudah penampilanku. Semua kerabatku memeluk diriku terutama Lina sahabatku. Ia rela bahunya basah oleh air mataku demi perasaanku menjadi lebih baik. Hal itu tak membuatku berhenti menangis namun membuat tangisanku semakin menjadi. “Lo putus sama Vino?” Tanya Lina membisikkan ditelingaku. Aku hanya bisa menjawab dengan tangisan dan memeluk erat Lina. Lina mengerti isyarat yang ku berikan kepadanya. Lalu seorang guru bertanya kepadaku “Untuk siapa lagu ini? Sangat bagus dan menyentuh”. Akupun menjawab pertanyaan guru dengan melirik ke arah Vino dan semua mata tertuju pada Vino. “Vino, kesini!” perintah guru. Vino menghampiriku. Ia hanya bisa diam penuh penyesalan melihatku menangis tersedu dengan tampang penuh penyesalan. “Hapus air matanya! Kenapa kamu Cuma bisa diem?” tanya guru kembali.  “Saya gak tega ngeliat seorang wanita menangis  bu” jawab Vino. “Lantas jika kamu tak tega melihat seorang perempuan menangis, mengapa kamu membuatnya menangis?“ tegas guru dan Vino hanya bisa terdiam seribu bahasa, “Biar saya saja bu yang hapus air matanya Clara” seru Dino yang segera menghapus air mataku. Aku mengharapkan Vino yang menghapusnya, namun untuk apa aku mengharapkan orang sepertinya? Aku pun berpikir panjang. Aku mengetahui kalau Dino sudah lama menyukaiku namun aku tak pernah membalas perasaannya karena aku hanya menyayangi Vino seorang. Namun seseorang yang aku banggakan dan ku sayangi sepenuh hati membalasnya dengan pengkhianatan. Vino kaget melihat Dino menghapus air mataku bisa dibilang ia cemburu. Vino menepis tangan Dino dari wajahku. “Kenapa kamu tepis? Kamu gak rela kan air mata Clara dihapus sama orang lain? Kamu ngerasa sakit kan dibalas seperti ini?” Tanya sang guru. “Saya memang gak rela Clara dihapus air matanya sama laki-laki lain, saya masih menyayangi dirinya” jawab Vino tegas. “Jika kamu tak menginginkan hal ini mengapa kamu membiarkannya untuk pergi?” Tanya guru kembali yang tak diduga bahwa guru tersebut ialah kakaknya Clara. Vino tak dapat menjawab pertanyaan tersebut kemudian meninggalkan ruang kelas. Di luar sana Vino menemui Raisa dan ternyata Raisa tengah bersama laki-laki lain. Tiba-tiba Vino dipukul oleh laki-laki itu yang ternyata kekasih sebelumnya Raisa. “Lo perusak hubungan orang! Munafik! Gue ini cowok resminya Raisa dan lo cuma selingkuhannya doang! Mulai sekarang gak usah ganggu cewek gue lagi!!” tegas kekasihnya Raisa memberi peringatan kepada Vino, ia meninggalkan Vino sambil merangkul Raisa. Raisa tak dapat berbuat apa-apa, ia hanya bisa menoleh ke arah Vino.
Aku mencari Vino dan mendapati ia tengah terduduk dilantai dengan bibir yang berdarah akibat pukulan dari kekasih Raisa. “Vino…. Lo gak apa-apa kan?” tanyaku mencemaskan Vino. “Lo kok masih peduli aja sama gue sih? Padahalkan gue udah buat lo nangis Ra..” jawab Vino singkat. “Gue peduli karena gue sayang sama lo Vin, gue juga gak ngerti sama hati gue kenapa masih peduli dan sayang sama lo meski lo udah nyakitin gue. Gue kan udah sampaiin lewat lagu gue kalo cinta gak mungkin berhenti secepat gue jatuh hati sama lo” singkat jawabku sambil meneteskan air mata. “Gue juga sayang kok sama lo, maafin gue Ra, gue bodoh udah nyia-nyiain orang setulus lo yang sayang sama gue gak kayak Raisa. Gue bener-bener nyesel Ra, yang namanya disakitin itu bener-bener sakit, perih…” jelas Vino sambil mengusap air mataku. “Ra.. Lo mau kan balik lagi sama gue? Gue janji kok gak akan nyakitin lo untuk yang kedua kalinya” pinta Vino. “Mmm.. maaf Vin gue gak bisa, lo itu sekarang udah jadi masalalu gue. Lo udah jadi sejarah dalam percintaan gue yang saat ini cuma bisa gue kenang. Gue nolak lo bukannya gue trauma sama lo tapi cukup sekali aja gue ngerasain begini. Jujur gue sayang lo tapi cinta gak harus memiliki kan? Gue hargai kok perasaan lo sama gue, tapi sekali lagi maaf. Gue sadar diri. Gue gak pantes berada disisi lo lagi. Lo layak ngedapetin perempuan yang gak over kayak gue.. sekali lagi makasih yaa buat waktu 2tahunnya. Status kita memang bukan pacaran tapi masih bisa berteman kan? Dan gue beruntung kok sempat memiliki lo:””)” ujarku yang melingkarkan jari kelingkingku di jari kelingking Vino.
Aku segera meninggalkan Vino yang duduk terdiam penuh penyesalan sambil menangis. Aku tak salah ambil keputuskan. Fix ku tinggalkan Vino demi kebahagiaannya meski ku menyayanginya. Akupun harus begitu Vino hanyalah tinggal kenangan. Dan ku tak boleh bergantung lagi padanya karena dia hanyalah masa lalu yang dapat dikenang dan dijadikan pelajaran untuk kedepannya.


THE END

1 komentar: